Sabtu, 14 Januari 2012

KONTRIBUSI ISLAM


kontribusi islam
dalam membangun pendidikan

 








Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Peradaban Islam
yang di ampu oleh Bp. Asmaji Muktar, Ph.D

Disusun Oleh:

AHMAD ROBIHAN, S.Pd.I
NIM : 3148111

 


pasca sarjana
Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ)
Jawa Tengah di Wonosobo
2011

PENDAHULUAN
Keimanan terhadap Islam sebagai sebuah manhajul hayah (sistem hidup) akan senantiasa membawa seorang muslim untuk kembali kepada ajaran agamanya. Segala permasalahan akan diupayakan untuk ditinjau dari “kaca mata” Islam. Dunia pendidikan, dalam hal ini, tidak terkecuali. Seorang guru atau tenaga pendidik muslim, sebelum dia berperan sebagai guru atau tenaga pendidik, dia adalah seorang muslim. Artinya, dia akan memenuhi panggilan hati nuraninya untuk senantiasa membawa misi Islam dalam kehidupannya. Dan misi Islam itu adalah rahmatan lil ’alamin.
Meletakkan wacana pendidikan dalam bingkai ajaran Islam, tentu juga bukan sesuatu yang aneh. Sebab, para Nabi dan Rasul ’Alaihimus Shalatu Was Salam sendiri, yang merupakan manusia-manusia figur keagamaan, adalah guru-guru kehidupan dan mereka adalah tokoh-tokoh pendidikan. Tugas pokok dan misi utama mereka adalah pendidikan dan pengajaran.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wata’ala mengabadikan doa Nabi Ibrahim :



Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah/2: 129)

Ayat ini dalam konteks doa Ibrahim adalah untuk anak cucu putranya, yaitu Ismail ‘alaihimas salam. Lebih spesifik, ayat ini tentang penutup para nabi sekaligus nabi termulia: Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam.
Dalam doanya itu, Ibrahim merinci misi kenabian Rasulullah. Ia menyebut tiga strategi: membacakan, mengajarkan dan mensucikan. Tak pelak, ketiganya adalah tugas pendidik. Dan tidak salah bila dikatakan bahwa pendidikan adalah bagian integral dan tak terpisahkan dari ajaran Islam.[1]
Jika dilihat secara historis, lahirnya Islam disertai dengan lahirnya revolusi pendidikan, hal ini bukan apologis bahwa ayat yang pertama turun adalah iqro’ (perintah membaca), kemudian disusul al-Muddatsir (perintah untuk bangkit).
Tuntutan agama Islam pada khususnya, sejak awal penyebarannya di dunia ini adalah mengajak dan mendorong umat manusia agar mau bekerja keras mencari kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat secara simultan antara etos kerja yang terintegrasi, yang satu sama lain saling berkaitan secara kontinu, termasuk etos ilmiah yang mendorong ke arah pengembangan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan realitas ini, penulis akan memaparkan makalah yang berjudul kontribusi Islam dalam membangun pendidikan. Pembahsannya meliputi: Pandangan Islam terhadap pendidikan, pengertian pendidikan Islam, dasar-dasar pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam, dan spesifik pembahasannya adalah kontribusi Islam dalam membangun Pendidikan melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam.

 

PEMBAHASAN

A.      Pandangan Islam Terhadap Pendidikan

Islam adalah agama yang haq dan diridhoi Allah SWT, diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW yang dipilih sebagai rasulNya yang terakhir. Ajaran atau petunjuk Allah swt yang disebut agama Islam itu, terhimpun secara lengkap dan sempurna didalam Al Qur’an , sebagaimana difirmankan melalui surat Ali Imran ayat 138 sebagai berikut :


Artinya:
(Al Quran) Itu adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”[2]
Bagi umat Islam diakui bahwa pandangan hidup atau ideologi itu diridhoi Allah SWT sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang bersifat duniawiah, termasuk juga dalam penyelenggaraan pendidikan. Akan tetapi dalam urusan duniawiah yang berhubungan dengan keselamatan di akhirat, umat Islam tidak dapat hanya menggantungkan diri pada pandangan hidup atau ideologi tersebut, yang mungkin sangat ampuh dalam mewujudkan keselamatan di dunia.
Sehubungan dengan itu berarti tidak perlu ada keraguan bagi umat Islam untuk mendasarkan dan melaksanakan pendidikan menurut ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Muhammad SAW.

B.       Pendidikan Islam

1.    Pengertian Pendidikan Islam
Menurut H. M Arifin, pendidikan adalah usaha orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal.[3] Adapun menurut Ahmad D. Marimba adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[4] Pengertian pendidikan menurut Soegarda Poerbakawatja ialah semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, dan ketrampilannya kepada generasi muda. Sebagai usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.[5]
Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan secara terperinci dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia untuk dapat membantu, melatih, dan mengarahkan anak melalui transmisi pengetahuan, pengalaman, intelektual, dan keberagamaan orang tua (pendidik) dalam kandungan sesuai dengan fitrah manusia supaya dapat berkembang sampai pada tujuan yang dicita-citakan yaitu kehidupan yang sempurna dengan terbentuknya kepribadian yang utama.
Sedang pendidikan Islam menurut Ahmad D Marimba adalah bimbingan jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[6] Senada dengan pendapat diatas, menurut Chabib Thoha pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah dasar dan tujuan serta teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pandidikan berdasarkan nilai-nilai dasar Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits.[7] Menurut Achmadi mendefinisikan pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insan yang berada pada subjek didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam atau dengan istilah ain yaitu terbentuknya kepribadian muslim.[8]
Masih banyak lagi pengertian pendidikan Islam menurut para ahli, namun dari sekian banyak pengertian pandidikan Islam yang dapat kita petik, pada dasarnya pendidikan Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya manusia ideal (insan kamil) yang berkepribadian muslim dan berakhlak terpuji serta taat pada Islam sehingga dapat mencapai kebahagiaan didunia dan di akherat. Jadi nilai-nilai pendidikan Islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam yang digunakan sebagai dasar manusia untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi pada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.
2.    Dasar-Dasar Pendidikan Islam
Dasar pendidikan Islam yang dipakai oleh seluruh umat Islam didunia adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.
a.    Al-Qur’an
Ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah ayat yang disamping berkenaan dengan masalah keimanan juga masalah pendidikan. Allah berfirman :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al ‘Alaq : 1-5)
b.    As-Sunnah
Kaitannya dengan pendidikan, Rasulullah SAW mengatakan bahwa beliau adalah juru didik. Rasulullah SAW bersabda  yang artinya :
Barangsiapa yang menyembunyikan ilmunya maka Tuhan akan mengekangnya dengan kekang berapi.” (HR. Ibnu Majah)
3.    Tujuan Pendidikan  Islam
Tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah kegiatan selesai dan memerlukan usaha dalam meraih tujuan tersebut. Pengertian tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup.[9] Adapun tujuan pendidikan Islam ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan para ahli. Menurut Ahmadi, tujuan pendidikan Islam adalah sejalan dengan pendidikan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk Allah SWT yaitu semata-mata hanya beribadah kepada-Nya.[10] Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an yang artinya:
“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Yusuf Amir Faisal merinci tujuan pendidikan Islam sebagai berikut :
1.    Membentuk manusia muslim yang dapat melaksanakan ibadah mahdloh.
2.    Membentuk manusia muslim disamping dapat melaksanakan ibadah mahdloh dapat juga melaksanakan ibadah muamalah dalam kedudukannya sebagai orang per-orang atau sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan tertentu.
3.    Membentuk warga negara yang bertanggungjawab pada Allah SWT sebagai pencipta-Nya.
4.    Membentuk dan mengembangkan tenaga professional yang siap dan terampil atau tenaga setengah terampil untuk memungkinkan memasuki masyarakat.
5.    Mengembangkan tenaga ahli dibidang ilmu agama dan ilmu –ilmu Islam yang lainnya.[11]
C.       Kontribusi Islam Dalam Membangun Pendidikan Melalui Lembaga Pendidikan  Islam
1.    Keluarga
Islam dalam membangun pendidikan dimulai dari Lembaga pendidikan keluarga.[12] Sebagaimana telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya :

كل مولوديولدعلىالفطرة وانماابواه يمجسانه اويهودانه اوينصرانه

“Setiap anak dilahirkan ke dasar fitrah, maka sesungguhnya kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia menjadi Majusi, Yahudi atau Nasrani.”
Dalam hal ini pula Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi :

ياايهاالذين امنواقوانفسكم واهليكم نارا… {التحريم : 2}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka…..”(Q.S At-Tahrim : 6)
2.    Al-Kuttab
Munculnya lembaga Al-Kuttab dapat ditelusuri sampai kepada zaman Rosulullah SAW sendiri, Al-Kuttab berperan besar pada sejarah Islam ketika nabi memerintahkan para tawanan perang (Badar) yang dapat menulis dan membaca untuk mengajar sepuluh anak-anak Madinah bagi setiap orang tawanan.
Menurut sejarah Islam, orang yang pertama-tama penduduk Mekah yang belajar menulis adalah Sufyan Bin Umayyah Abdus- Syamsyi dan Abi Qois Bin Abdi Manaf Bin Zaheah.  Dan yang mengajarkan menulis kepada kedua orang ini adalah Basyar Bin Abdul Malik yang pernah belajar menulis dari penduduk Hiroh.
Sejak abad kedua dan abad berikutnya Al-Kuttab berkembang lebih pesat. Dan Al-Kuttab yang terkenal di antaranya  adalah Kutab Abi Qosim Al Balchi
Ya’kub menceritakan bahwa ada yayasan pendidikan yang memberikan pelajaran nahwu mempunyai tiga ribu murid. Sedang kurikulumnya berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing. Peranan AlKuttab tetap besar dalam jiwa kita, dan besar pengaruhnya dalam sistim pendidikan Islam. Karena didalam Al-Kuttab itu berkumpullah anak-anak dari berbagai ragam lingkungan keluarga, baik yang kaya maupun yang miskin, sehingga tidak terjadi unsur- unsur pendidikan yang bersifat diskriminatif.
Bahkan sebaliknya, prinsip-prinsip kebebasan dan demokrasi tercermin dalam sistim pendidikan itu.  Para ahli fikih tidak sama tingkat pengetahuannya tentang metode dasar dan langkah-langkah dalam mengajarkan Al-Quran.
3.    Masjid
Masjid sebagai lembaga pendidikan Islam dapat  dikatakan sebagai madrasah yang berukuran besar yang pada masa permulaan sejarah Islam dan masa-masa selanjutnya adalah merupakan tempat menghimpun kekuatan umat Islam baik dari segi fisik maupun mentalnya.
 Masjid demokrasi di samping untuk tempat bersembahyang, dipergunakan juga untuk mendiskusikan dan mengkaji permasalahan dakwah Islamiah pada permulaan perkembangan Islam.
Masjid Jami Al-Qurowiyyin merupakan salah satu sarana pengajaran Islam  yang lebih menekankan pada asas-asas demokrasi pendidikan Islam dan di sinilah muncul metode-metode baru dalam pengajaran dan langkah-langkah ( tehnik-tehnik ) mengajar, serta jawaban-jawaban guru besar, dan ijazah-ijazah doktor, majelis-majelis atau dewan pembina dan penyantun fakultas, serta tempat tinggal ( pemukiman) bagi para dosen dan mahasiswa di kampus universitas.
4.    Darul Hikam dan Darul Ilmi
Darul Hikam ini muncul pada waktu bercampurnya bermacam-macam bangsa dan peradaban pada masa kerajaan Abbasiyyah dan pada masa bangkitnya intelek yang hebat yang telah mendorong orang-orang Islam pada waktu itu untuk memperoleh ilmu-ilmu pengetahuan. Tujuan utama dari mendirikan lembaga itu adalah untuk mengumpulkan dan menyalin ilmu pengetahuan asing. Pada waktu itu telah diterjemahkan kitab-kitab asing dalam bahasa Arab dan menghasilkan ulama-ulama yang terkenal di antaranya Al Khawarizmi sebagai ahli ilmu falak dan Abu Ja’far Muhammad sebagai ahli ilmu ukur dan manthiq.
Lembaga ini mirip dengan universitas dewasa ini, dalam pengertian di sana belajar segolongan pelajar dari bermacam-macam ilmu pengetahuan secara mendalam dan pikiran yang bebas. Adanya hubungan yang erat di antara perpustakaan dengan lembaga-lembaga ini merupakan faktor yang besar untuk mencapai tujuan ini.
5.    Madrasah
Madrasah sangat diperlukan keberadaannya sebagai tempat murid-murid menerima ilmu pengetahuan agama secara teratur dan sistematis. Sebab-sebab madrasah ini didirikan adalah karena masjid-masjid telah dipenuhi halaqah-halaqah dari para guru dan murid-murid yang semakin berdesakan sehingga mengganggu orang-orang yang sedang bersembahyang dari satu segi, dan dari segi lain ialah karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan setelah makin berkembangnya kegiatan penterjemahan buku-buku bahasa asing.
Adapun yang menjadikan madrasah ini paling berfungsi ialah kelengkapan proses belajar mengajar yang dikenal dengan ruangan muhadarahnya beserta bangunan-bangunan pendukung lainnya.
6.    Al-Khowanik, azzawaya
Ditinjau dari banyak segi, lembaga-lembaga ini lebih banyak menyerupai monastry dan hermitage, karena pelajar-pelajar mengasingkan diri mereka untuk belajar dan beribadat di lembaga-lembaga ini, sebagaimana biasanya disediakan untuk orang mistik atau orang tasawuf.
Adapun Azzawiyah menyerupai  khanqah dari segi tujuan. Akan tetapi Zawiyah ini lebih kecil dari khanqah dan dibangun untuk orang-orang tasawuf yang fakir supaya mereka dapat belajar dan beribadat. Contohnya salah satu raja dari Al-Mamalik membangun sebuah Zawiyah Al  Jumairoh pada abad ke- VIII M dan ditempatkan di dalamnya beberapa orang sufi yang fakir .Dan kadang-kadang pula Zawiyah itu didirikan untuk seorang syekh yang termasyhur yang bertugas untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan mengasingkan diri untuk beribadat. Pada umumnya Zawiyah itu dikenal dengan nama seorang Syekh yang terkenal dengan banyak ilmunya dan taqwanya.
7.    Al-Bimaristan
Orang-orang Islam mendirikan Al-Bimaristan untuk mengobati orang-orang sakit dengan cara gratis dan untuk mempelajari ilmu kedokteran secara praktis. Menurut keterangan Al-Mariqzi orang yang mula-mula membangun Al-Bimaristan adalah Al Walid bin Abdul Malik pada tahun 88 H. Di antara Al-Bimaristan yang terkenal adalah Al Bimaristan Al Manshuri Al Kabir yang didirikan oleh Al Malik Al Manshuri.
8.    Hala Qotub Dar dan Al-Ijtima’at Al-Ilmiyah
Salah satu ciri dari sistem pendidikan Islam ialah mudah dan elastis dan sebagai bukti ialah adanya Halaqatuddars dan Ijtima’at al Ilmiyah di mana-mana yang bertujuan untuk menyebarkan ilmu. Halaqah ini merupakan salah satu cara yang penting untuk menyebarkan ilmu pengetauan 
9.    Duwarul Kutub
Berbicara tentang lembaga pendidikan dalam Islam,  sangatlah patut disebut  Duwarul Kutub (perpustakaan-perpustakaan) yang besar yang memegang peranan penting dalam mensukseskan tugas-tugas lembaga pendidikan tersebut dalam bentuk yang lebih sempurna, dan juga yang membantu berlangsungnya pelajaran, prestasi, penelitian perorangan serta memudahkan cara-cara memperoleh pendidikan bagi orang banyak.
Ibnu  Qufthi menjelaskan tentang adanya sebuah perpustakaan yang berisi buku-buku tentang ilmu ukur dan ilmu falak yang berjumlah 6500 buah, dan di sana juga terdapat di dalamnya dua buah bola bumi, sebuah di antaranya kepunyaan Bathleimus dan satu lagi kepunyaan Abul Hasan Al-As- Shufi,  keduanya berharga 3.000 dinar.
Yaqut dalam bukunya  Al-Mu’jam menjelaskan bahwa di Karkar di sekitar Al-Qansh terdapat sepetak tanah yang  berharga kepunyaan Ali Bin Yahya bin Al Munjim, yang  padanya didirikan sebuah istana yang besar  dan di dalamnya terdapat sebuah perpustakaan yang besar pula dan diberi nama “Khazanatul Hikmah”.
Perhatian orang-orang Islam tentang perpustakaan, terutama di  Spanyol tidaklah kurang perhatian mereka terhadapnya dari orang-orang Islam di bagian Timur waktu itu. Perpustakaan yang terkenal di Andalus adalah Khazanatul Hukmits Tsani yang mempunyai buku-buku  400.000 jilid.
Sebenarnya pendidikan Islam tidak mengenal syarat masuk untuk belajar di dalam suatu tingkat pendidikan, kecuali satu  yaitu ingin belajar dengan sungguh-sungguh, bagi orang yang haus akan ilmu pengetahuan.  Tidak dapat diingkari satu tujuan yang tettinggi dari demokrasi dan kebebasan, dan inilah yang belum tercapai di negeri kita, karena di sana masih banyak terdapat hambatan-hambatan keuangan, batas umur dan ijazah yang sering menghalangi kebanyakan orang untuk ikut serta dalam meninggikan kedudukan sesuatu masyarakat dengan memperoleh kesempatan belajar.[13]
10.         Pesantren
Yang terakhir inilah lembaga pendidikan  yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yaitu lembaga pendidikan pesantren.  Dari segi historis, pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman, tetapi juga keaslian (indegenous) Indonesia : sebab lembaga serupa sudah terdapat pada masa kekuasaan Hindu-Budha, sedangkan Islam meneruskan dan mengislamkannya.[14]
Pesantren berkembang dalam pranatanya yang khas selama berabad-abad sebagai lembaga Islam yang mandiri dan bebas dari pengaruh pendidikan Barat-Eropa. Dalam penyelenggaraannya  pesantren dijiwai oleh suasana sebagai berikut :
1.    Jiwa keikhlasan. Segenap aktivitas kehidupan di pesantren seperti kyai dalam mengajar, para santri dalam belajar, dan lurah (ketua santri) dalam membantu kyai, diniati untuk beribadah kepada Allah semata.
2.    Jiwa kesadaran. Sederhana mengandung unsur-unsur kekuatan dan ketabahan hati dalam menghadapi segala kesulitan
3.    Jiwa kesanggupan menolong diri santri. Dengan jiwa ini santri belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, sementara pesantren sebagai lembaga pendidikan  juga tidak pernah menyadarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasihan orang lain.
4.    Jiwa ukhuwah Islamiyah. Kehidupan di pesantren diliputi suasana persaudaran yang akrab, persatuan, dan gotong-royong, sehingga segala kesenangan dirasakan bersama dan segala kesulitan dapat di- atasi bersama.
5.    Jiwa bebas. Kebebasan terwujud dalam berfikir, berbuat, menentukan nasib sendiri, dan memilih jalan hidup di masyarakat.  Kebebasan di sini tetap berada dalam batas-batas kepemimpinan kyai, sehingga para santri tetap berada dalam arah dan tujuan pendidikan. Jiwa inilah yang membuat pesantren di masa lalu bebas terpengaruh kolonial dan mengisoler diri dari kehidupan barat yang dibawa oleh penjajah.[15]

KESIMPULAN
Seperti yang telah kita ketahui di atas, kontribusi Islam dalam membangun pendidikan sangatlah besar. Islam mengawali dari Lembaga Pendidikan Keluarga. Pada dasarnya setiap anak menurut Islam dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka tergantung dari kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia menjadi Majusi, Yahudi atau Nasrani.
Kemudian atas inisiatif  Rasulullah, muncullah Al-Kuttab sebagai sebuah lembaga yang berperan besar pada sejarah Islam. Selanjutnya Rasul mempergunakan Masjid di samping untuk tempat bersembahyang, juga untuk mendiskusikan dan mengkaji permasalahan dakwah Islamiah.
Pada masa kerajaan Abbasiyyah muncul Lembaga Pendidikan Darul Hikam. Lembaga ini didirikan pada saat bercampurnya bermacam-macam bangsa dan peradaban, dan pada masa bangkitnya intelek yang hebat yang telah mendorong orang-orang Islam pada waktu itu untuk memperoleh ilmu-ilmu pengetahuan. Tujuan utama dari mendirikan lembaga ini adalah untuk mengumpulkan dan menyalin ilmu pengetahuan asing.
Pada masa-masa selanjutnya berdiri lembaga-lembaga pendidikan, diantaranya; Madarasah, Al-Khowanik-Azzawaya, Al-Bimaristan, Hala Qotub Dar dan Al-Ijtima’at Al-Ilmiyah, Duwarul Kutub, dan lembaga pendidikan yang sudah sangat kita kenal saat ini, yaitu Pesantren. Pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman, tetapi juga keaslian (indegenous) Indonesia.
Begitu besarnya kontribusi Islam dalam membangun pendidikan, sehingga saat ini kita bisa menikmati pendidikan Islam dalam perkuliahan ini. Cihuiiiiiiiiiiiiiiiiiii..



DAFTAR PUSTAKA

Achmadi                                                        Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya media,1992)
Ahmad D. Marimba                                        Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung : Al Ma’arif, 1989)
Arifin, HM.                                                     Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1976)
Asma Hasan Fahmi, Dr.                                 Sejarah dan Filsafat Pendidikan  Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1979.
Chabib Thoha, HM.                                        Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),
Depag. RI.                                                      Al-Qurán Al-Karim dan Terjemah Makna ke Dalam Bahasa Indonesia, Mushaf Ayat Sudut, Menara Kudus, Kudus, 2006.
Hery Noer Aly, Drs. MA.                              Ilmu Pendidikan  Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999
Ilham Jaya Abdurrauf,
Seminar Nasional Pendidikan Islami              Selamatkan Generasi Muda Dengan Pendidikan Islami,” Forum Ukhuwah Pemuda dan Mahasiswa Islam (FUAS) – BONE, Islamic Center Kab. Bone, 3 Rajab 1429 H./6 Juli 2008 M.
Soegarda Poerbakawatja, et. al.                      Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta : Gunung Agung,1981)
Yusuf Amir Faisal                                           Reorientasi pendidikan Islam (Jakarta : Gema Insani Press,1995)
Zuhairini, et. al.                                               Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta : Bina Aksara, 1995)


[1] Ilham Jaya Abdurrauf dalam Seminar Nasional Pendidikan Islami: ”Selamatkan Generasi Muda Dengan Pendidikan Islami,” Forum Ukhuwah Pemuda dan Mahasiswa Islam (FUAS) – BONE, Islamic Center Kab. Bone, 3 Rajab 1429 H./6 Juli 2008 M.
[2] Depag. RI, Al-Qur’an dan terjemah, Al-Qurán Al-Karim dan Terjemah Makna ke Dalam Bahasa Indonesia, Mushaf Ayat Sudut, Menara Kudus, Kudus, 2006. hlm.
[3] HM. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1976) hlm. 12
[4] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung : Al Ma’arif, 1989) hlm. 19.
[5] Soegarda Poerbakawatja, et. Al,. Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta : Gunung Agung,1981) hlm. 257
[6] Ahmad D. Marimba, Op. Cit., hlm. 21
[7] HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),
hlm. 99.
[8] Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya media,1992), hlm. 14.

[9] Zuhairini, et. al. Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta : Bina Aksara, 1995) hlm. 159.
[10] Achmadi, Op. Cit., hlm. 63
[11] Yusuf Amir Faisal, Reorientasi pendidikan Islam, (Jakarta : Gema Insani Press,1995) hlm. 96.
[12] Zuhairini, Op. Cit, hlm. 181
[13] Dr. Asma Hasan Fahmi,  Sejarah dan Filsafat Pendidikan  Islam,  (Jakarta:Bulan Bintang, 1979).    hlm. 29.
[14] Drs. Hery Noer Aly, MA., Ilmu Pendidikan  Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 228.
[15] Ibid. hlm. 229

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar